Friday, October 30, 2009

Budaya Malu

*Bangsa Indonesia* adalah bangsa yang beradab dan mempunyai norma dan etika
yang tinggi. Bahkan bangsa ini termasuk ke dalam katagori bangsa yang
mempunyai peradaban tinggi, terlihat dari muamalah yang dilakukan
masyarakatnya yang mempunyai tradisi dan kebudayaan daerah yang
berbeda-beda. Mereka mampu hidup rukun, damai, penuh rasa saling menghargai
dan toleransi.

Namun dibalik itu, harus jujur kita akui bahwa bangsa Indonesia
termasuk kategori bangsa yang memiliki kecakapan luarbiasa untuk melupakan
hal-hal yang sebenarnya sangat signifikan mempengaruhi kehidupan kita. Orang
menyebut kita bangsa yang mengalami amnesia dengan stadium yang sangat
merisaukan. Kalau harus diukur dengan bentangan angka-angka, maka sudah tak
berbilang berapa jumlah peristiwa bersejarah lalu-lalang di hadapan kita
begitu saja. Peristiwa yang membanggakan atau peristiwa tragis yang
meluluhlantakkan perikehidupan manusia. Kini mari bersikap jujur, benarkah
peristiwa-peristiwa ini telah menanam kesan yang kuat dalam diri dan hati
sehingga mampu mengubah prilaku buruk kita?
Kalau terjadi peristiwa dan tragedi alam, seperti bencana alam
Tsunami di Aceh dan gempa bumi di Balakot dan Mudzafarabad bisa jadi kita
akan berkilah, itu semata kodrat dan takdir Allah. Tetapi bagaimana dengan
tindakan-tindakan destruktif akibat *negative behavior* (*Su-ul Khuluq*)
yang dilakukan sebagian anak bangsa. Kini, pilar-pilar demokrasi, politik,
hukum serta sosial akan segera runtuh karena kian derasnya tindak pidana
korupsi yang dilakukan secara terang-benderang. Tindakan korupsi ini, begitu
kuat tertanam, sehingga untuk --jangankan memberantasnya-- mencegah pun akan
kesulitan dilakukan oleh siapa pun, apalagi kalau kita hanya berpangku
tangan dan cuma mengandalkan tangan-tangan pemerintahan.
Lantas, alat penakut semacam apa yang bisa membuat para koruptor
jera? Rasanya akan sulit menemukan alat paling tepat untuk mengembalikan
para koruptor ke jalan yang benar. Sebab, sedari awal Baginda Rasul sudah
mewanti-wanti umatnya soal bahaya korupsi bagi tegaknya pilar-pilar
kehidupan. Dari *saking* bahayanya, Rasulullah mengancam para koruptor
--salah satu bentuk tindakannya adalah menyuap dan menerima suap-- ini
dengan jilatan api neraka. *Ar-Roosyi Wal Murtasyii Finnaar*; pemberi suap
dan penerima suap sama-sama di neraka.
Kalau neraka saja, bukan alat penakut buat mereka, lantas alat
apa yang pantas kita siapkan? Rasanya sulit menemukan jalan paling tepat
kecuali kita berharap lahirnya kecerdasan spiritual bagi bangsa tercinta
kita.
Asal muasal tindakan korupsi sebenarnya berawal dari rasa iri,
dengki, dan hasad terhadap sesama manusia serta adanya rasa *hubud
dunya*(cinta dunia). Seorang pendengki tidak akan bisa hidup tenang
kalau
menyaksikan tetangganya bergelimang karunia. Hitungan detik dalam hidupnya,
hanya memikirkan tetangganya dengan hati yang mendongkol, sementara tetangga
yang menjadi objek sifat irinya dapat tidur nyenyak. Masih bagus kalau dia
berharap nikmat serupa tanpa mengusik ketenangan tetangganya. Bila sifat
dengki, iri, hasad dan *hubud dunya* sudah jauh merasuk ke dalam jiwa, maka
harapannya cuma satu; bagaimana caranya nikmat itu bisa hilang atau
tetangganya pergi jauh dari lingkungannya. Kalau rasa iri begitu dalam
menghunjam dalam dirinya, maka ia akan mengambil cara apa pun agar bisa
memperoleh kakayaan. Maka lahirlah tindakan suap, sogok, dan akhirnya
melakukan tindak korupsi.
Pantaslah kalau Al-Quran menyebut perbuatan korupsi ini sebagai
*al-fasad* (yang merusak dan menghancurkan), yang layak dihukum dengan
hukuman yang seberat-beratnya; seperti dihukum mati, disalib, dipotong
tangan dan kakinya dengan timbal balik, atau dibuang dari negeri tempat
kediamannya, sebagaimana dikemukakan dalam al-Qur'an Surat al-Maidah ayat
33-34:
*إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ
فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ
أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنفَوْا مِنْ الْأَرْضِ ذَلِكَ
لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنيَا وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ
(المائدة33) إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَقْدِرُوا عَلَيْهِمْ
فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (المائدة34)*
"Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan
Rasul-Nya dan membuat kerusakan *(al-fasad)* di muka bumi, hanyalah mereka
dihukum mati atau disalib, dipotong tangan dan kakinya secara menyilang,
atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai)
suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat nanti mereka
memperoleh siksaan yang besar. Kecuali orang-orang yang taubat (di antara
mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketahuilah
bahwasanya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang."
Adalah wajar dan sah-sah saja apabila setiap manusia (apa pun
posisi, jabatan, pekerjaan, dan keahliannya) mencintai harta. Ini karena ia
merupakan hal yang bersifat fitrah dan naluriah, bahkan menjadi sunnatullah
dalam kehidupan manusia, sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur'an Surat Ali
Imron ayat 14:
*زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنْ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ
وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنْ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ
الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ (آل عمران14)*
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang
diingini, yaitu: wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas,
perak, kuda pilihan (kendaraan mewah), binatang-binatang ternak, dan sawah
ladang, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik."
Akan tetapi, hal tersebut akan menjadi sangat berbahaya bagi
kehidupan manusia, apabila berubah menjadi *hubbud dunya * (kecintaan yang
berlebih-lebihan kepada harta dunia), yang menjadikan dunia sebagai tujuan
akhir dan menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkannya. Rasulullah
SAW menyebutkan *hubbud dunya* itu sebagai fitnah terbesar bagi umatnya,
sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, Beliau
bersabda: "Setiap umat memiliki fitnah dan ujian, dan fitnah terbesar bagi
umatku adalah harta dunia."

Jika tidak dikendalikan dengan keimanan yang kuat, *hubbud dunya
* ini akan selalu menimpa pada setiap orang, karena memang dunia itu adalah
sesuatu yang indah, lezat, dan menggiurkan. Dalam hadits lain riwayat Imam
Bukhari, Rasulullah SAW bersabda pula: "Sesungguhnya harta dunia ini adalah
ibarat tanaman yang hijau (yang sangat menarik) dan terasa manis. Harta
dunia akan menjadi sebaik-baiknya sahabat bagi kehidupan seorang Muslim,
jika mendapatkannya dengan cara yang benar dan memanfaatkannya dengan cara
yang benar pula, seperti untuk menegakkan agama Allah, menolong dan membantu
anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil (orang yang kehabisan
bekal dalam perjalanannya). Dan barangsiapa yang mendapatkannya dengan cara
yang tidak benar, maka ibarat orang yang makan tetapi tidak pernah merasa
kenyang, dan kelak akan menjadi saksi pada hari kiamat (yang memberatkan)."
Banyaknya kalangan yang jatuh dan bertekuk lutut pada
pelukan *hubbud
dunya*, di samping karena indah, manis, dan lezatnya, juga karena ada
anggapan bahwa fitnah dan ujian itu hanyalah dengan sesuatu yang dianggap
menyakitkan, seperti kelaparan, kemiskinan, kekurangan dan menderita sakit.
Sedangkan, pangkat, jabatan, kedudukan harta, ilmu pengetahuan, kesehatan,
dan popularitas bukan dianggap ujian dan cobaan, tetapi adalah semata-mata
kenikmatan dan karunia. Oleh karena itu banyak orang yang tidak hati-hati
ketika mendapatkannya, bahkan cenderung lupa daratan. Padahal Allah SWT
sudah mengingatkan hal ini dengan firman-Nya pada al-Qur'an Surat Al-Anbiya
ayat 35:
*كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ
فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ (الأنبياء35)*
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan
keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya
kepada Kamilah kamu dikembalikan."
Ketika mengomentari ayat tersebut (QS Al Anbiya: 35), Sayyid
Quthb dalam Tafsir Fi Dzilalil Qur'an, menyatakan adalah tidak perlu
penjelasan yang rinci jika fitnah dan ujian dalam bentuk hal-hal yang
menyakitkan, karena hampir setiap orang pasti memahami dan menyadarinya.
Tetapi, terhadap bentuk ujian dengan hal-hal yang dianggap baik dan
menyenangkan perlu terus menerus dikumandangkan dan disosialisasikan, karena
banyak orang yang tidak menyadarinya. Banyak orang yang *kufrun
ni'mah*(tidak memanfaatkan anugerah Allah untuk kemaslahatan bersama)
dan kemudian
memanfaatkannya untuk kepentingan diri sendiri. Akibatnya, orang tersebut
menderita selama-lamanya (di dunia maupun di akhirat), walaupun pada mulanya
seolah-olah mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan.
Kapankah sifat iri, dengki, hasad, *hubud dunya* mengantarkan
seseorang kepada tindakan durjana ini? Kalau rasa malu sudah merasa malu
tinggal dalam diri seseorang yang memiliki sifat-sifat rendah tersebut. Ia
sudah tidak mamiliki rasa malu untuk berbuat apa saja asal harapannya
tercapai. Kalau rasa malu sudah hilang tak tersisa, maka semua jalan yang
telah disyariatkan agama pun akan ia langgar. Hatinya tak akan pernah luluh
meski berpanjang-pancang tiang firman Allah dihunjamkan ke hatinya. Kalau
rasa malu sudah hilang tandas, maka Tuhan juga akan dengan cepat ia
tanggalkan. Semua kisi-kisi hatinya dipenuhi kegandrungan terhadap dunia,
harta didapat dengan cara-cara yang tidak halal. Ia berani menentang Tuhan,
seakan-akan Dia tidak pernah ada. Jangan merasa malu terhadap Tuhan, Dzat
yang dia tak mampu mencerna kehadiran-Nya, terhadap keluarganya pun ia tak
akan sanggup mengundang rasa malu bertengger di hatinya.
Di sinilah, ketika alat penakut sudah sulit kita temukan,
mendatangkan rasa malu menjadi sebuah awal yang bagus untuk menghindarkan
seseorang dari tindak pidana korupsi. *Al-Hayaa-u Minal Iman*; (Malu
sebagian dari iman). Bagaimana konsep malu menurut versi Rasulullah? *"Orang
yang ingin malu dengan sebenar-benarnya di hadapan Allah SWT, hendaklah
menjaga pikiran dan hatinya. Hendaklah ia menjaga perutnya dan apa yang
dimakannya. Hendaklah ia mengingat mati dan fitnah kubur."*
Para cerdik pandai selalu mengingatkan kita untuk mampu menjaga
rasa malu agar tetap hidup dalam hati kita dengan cara selalu berlapang dada
untuk berteman dengan orang yang terbiasa dipermalukan. Seorang sufi besar,
Yahya Bin Mu'adz pernah menyitir rasa malu ini dengan begitu indahnya.
Katanya, *"Bagi manusia yang malu di hadapan Allah SWT ketika taat, maka
Allah akan malu ketika ia berbuat dosa."*
Mengundang rasa malu yang sudah terlanjur jauh meninggalkan
kita, memang tidaklah mudah. Betapa dahsyatnya rasa malu ini, sampai-sampai
Tuhan Yang Maha Perkasa sekalipun memiliki sifat tersebut. Menurut Muadz Bin
Jabal ra, sebuah Hadits Qudsi meriwayatkan soal rasa malu Tuhan ini. *"Hamba-Ku
telah berlaku tidak adil terhadap diri-Ku. Ia meminta kepada-Ku, tetapi Aku
malu untuk tidak mengabulkan keinginannya. Padahal ia tidak pernah malu
bermaksiat kepada-Ku."*
Sifat malu sesungguhnya merupakan kunci paling fundamental untuk
menakar tingkat kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya. Bila seseorang
sudah tidak punya rasa malu, maka ia akan berbuat apa saja. Serba tegas
untuk menindas, serba sampai hati memeras bawahannya, serba mungkin
memindahkan angka-angka kemiskinan menjadi lembar-lembar dolar ke dalam
rekening pribadi.
Tak adakah rasa malu kepada Allah SWT saat kita sodorkan
lembaran-lembaran mata uang kepada istri kita untuk dibelikan bahan makanan,
tetapi uang tersebut hasil memeras atau hasil korupsi yang akan segera
menjadi darah daging dalam tubuh anak-anak kita? Masihkah tersisa rasa malu
terhadap Allah SWT ketika makanan sudah tersaji, tetapi itu jelas-jelas hak
orang lain? Di tengah-tengah kita, rasa malu tak tersisa lagi. Kalau masih
sadar, malu rasanya kita mengundang kembali rasa malu untuk secara suka rela
bersemayam dalam hati kita karena ia terlanjur malu menghuni rumah yang
menolak kehadiran rasa malu. *"Allah malu menyerahkan Buku Induk Akhirat
kepada hamba-Nya secara berhadap-hadapan karena isinya cuma daftar
dosa-dosa,"* kata Imam al-Qusyairy an-Naishabury dalam bukunya *Ar-Risalah
al-Qusyairiyah* mengutip sebuah Hadits Qudsi.
Apa keuntungan yang bakal kita dapat kalau kita meneguhkan rasa
malu? Abu Sulaiman Ad-Darany berkata, "Allah SWT berfirman: Wahai hamba-Ku,
selama engkau malu di hadapan-Ku, Aku akan membuat manusia lupa
kekuranganmu. Aku akan membuat muka bumi lupa akan dosa-dosamu. Aku akan
menghapuskan dosa-dosamu dari Buku Catatan Induk dan Aku tidak akan meneliti
amalanmu pada Hari Kebangkitan." Para koruptor adalah saudara kita juga.
Mari kita ingatkan mereka bahwa Tuhan Maha Melihat.

*Abdur-Rahim Yunus *
http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1064&Itemid=8

--
Salamun 'ala manittaba al Huda

0 comments: